Burung-burung baru Yogyakarta, 2015-2016

Setelah terbitnya Daftar Burung DIY pada medio 2015, jumlah jenis burung di Yogyakarta kembali bertambah. Terdapat enam jenis baru yang dijumpai di kurun 2015-2016. Kini, 346 jenis burung telah tercatat di Yogyakarta.

Enam tambahan jenis baru ini dihasilkan dari para pemerhati burung yang intens melakukan pengamatan dan pendokumentasian. Tidak hanya itu, merekapun aktif menginformasikan temuan-temuan yang didapat sehingga memudahkan pengumpulan data.

Berikut jenis-jenis yang makin menambah panjang daftar jenis burung di Yogyakarta.

Buntut-sate merah Phaethon rubricauda

Buntut-sate merah, Ngongap, Gunung Kidul © Budi Hermawan

Seekor teramati di Ngongap, Gunung Kidul dan terdokumentasi oleh Budi Hermawan. Individu terlihat tak memiliki perpanjangan ekor yang biasanya menjadi ciri jenis ini.

Jenis pelagis yang memiliki daya jelajah luas ini dijumpai pada 5 Sep 2015. Keberadaannya di Jawa termasuk jarang tercatat. Koloni berbiak diketahui terdapat di P. Manuk dan Gunung Api  di Laut Banda, serta di Kep. Cocos (Keeling) dan P. Christmas di Samudera Indonesia.

Dara-laut Kaspia Hydroprogne caspia

Dara-laut kaspia, Pantai Trisik, Kulon Progo © Asman Adi Purwanto

Seekor teramati oleh Asman Adi Purwanto di delta Kali Progo, Kulon Progo sebagaimana dilaporkan pada 22 Desember 2016. Dalam foto yang disertakan, burung tampak berukuran lebih besar dari dara-laut jambul di sekelilingnya. Terlihat paruhnya yang merah kokoh berujung hitam.

Di Indonesia, dara-laut kaspia termasuk pengunjung yang jarang tercatat. Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir jenis ini kerap teramati di Bali. Kehadirannya di pesisir Kulon Progo ini kemungkinan menjadi catatan yang ketiga untuk Jawa setelah dua perjumpaan sebelumnya berasal dari pesisir Jawa Timur.

Tikusan ceruling Rallina fasciata

Tikusan ceruling, Kaliurang, Sleman © Mas Kir

Seekor dijumpai oleh Kiryono di perairan sekitar obyek wisata Kaliurang, Sleman. Burung teramati pada 23 Apr 2016. Dalam pengamatan-pengamatan selanjutnya, beberapa kali burung masih dijumpai di lokasi yang sama sebagaimana dilaporkan oleh Arif Rudiyanto dan Wahyu W. Basyir.

Setelah perjumpaan di Sleman, keberadaan jenis yang sama dilaporkan oleh Dewi Hartanti di Lendah, Kulon Progo. Dari ciri warna bulu yang terlihat kusam, burung yang dijumpai pada 28 Mei ini dipastikan merupakan individu muda.

Meski termasuk penetap, pada musim migrasi dapat dijumpai pula individu-individu ras migran asal daratan Asia. Namun secara umum, jenis ini jarang diketahui mengingat sifatnya yang kerap bersembunyi pada semak atau tanaman di lahan basah.

Sikatan besi Muscicapa ferruginea

Sikatan besi, Jatimulyo, Kulon Progo © Kiryono

Saat melakukan pengamatan burung di Jatimulyo, Kulon Progo, seekor burung berukuran kecil yang teridentifikasi sebagai sikatan besi teramati oleh Kiryono, Ahmad Zulfikar Abdullah, dan Shaim Basyari.

Perjumpaan pada 12 Mei 2016 ini memastikan keberadaan jenis migran asal belahan bumi utara ini di Yogyakarta. Sebelumnya, sikatan besi tercatat dari wilayah Gunung Kidul dan Sleman, namun keberadaannya tidak dapat dikonfirmasi sehingga tidak dimasukkan dalam Daftar Burung DIY.

Tukik tikus Sasia abnormis

Tukik tikus, Jatimulyo, Kulon Progo © Kiryono

Seekor teramati pada 15 Juni 2016 di Jatimulyo, Kulon Progo oleh Kiryono. Dari ketiadaan warna kuning di dahi, individu yang dijumpai oleh pria yang akrab disapa Mas Kir tersebut merupakan betina.

Salah satu pelatuk terkecil di dunia ini menghuni kawasan hutan dataran rendah pada ketinggian di bawah 1.200 meter. Di Indonesia tercatat di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Perjumpaan di Jawa kebanyakan berasal dari beberapa lokasi di wilayah barat dan sangat sedikit perjumpaan di wilayah tengah.

Ciung-batu siul Myophonus caeruleus

Masih dari Jatimulyo yang berada di kawasan perbukitan Menoreh, seekor burung berukuran besar, berwana hitam kebiruan dengan paruh kuning dilaporkan oleh Suparno pada 15 Desember 2016. Dalam deskripsinya, warga setempat ini menerangkan suara dan perilaku yang menjadi penciri dari ciung-batu siul. Ia menambahkan, masyarakat di desanya mengenal jenis penetap yang hidup dekat perairan ini dengan nama siung watu.

Beberapa pemerhati burung di Yogyakarta menginformasikan kemungkinan adanya jenis ini di kawasan Gunung Merapi. Namun, hingga saat ini belum ada bukti kuat sehingga sulit untuk dikonfirmasi. Upaya pendokumentasian joke masih belum berhasil dikarenakan sifatnya yang sensitif dan cenderung menghindari kehadiran manusia.

Peluang yang terbuka lebar

Empat jenis yang tercatat merupakan jenis penetap, sementara dua jenis lain diketahui sebagai burung migran. Menariknya, seluruh perjumpaan berasal dari lokasi-lokasi yang relatif sering dikunjungi oleh para pemerhati.

Jumlah temuan burung baru untuk Yogyakarta dalam 8 tahun terakhir. Data 2008-2014 diambil dari Taufiqurrahman et al. (2015)

Hal tersebut menjadi indikasi akan tingginya potensi avifauna di wilayah Yogyakarta. Peluang perjumpaan jenis baru, terlebih di lokasi-lokasi yang jarang dikunjungi, masih sangat terbuka. Merujuk dari Daftar Burung DIY, setiap tahun di rentang waktu 2008-2014 selalu ada sumbangan jenis baru untuk Yogyakarta. Jumlahnya bervariasi, antara dua hingga 11 jenis. Berkat kontribusi dari para pemerhati, dalam dua tahun terakhir tren temuan baru ini masih bertahan.

 

 

avatar

About Kicau Mania Palembang Sumbagsel

Mercy tantry ( trie ) Jl. Punai no.28 Palembang - 08127385820-07114331883 - FB : Trie KMPS