Fenomena Lomba Burung Berkicau di Indonesia

Menurut wikipedia.org, Fenomena berasal dari bahasa Yunani; phainomenon, “apa yang terlihat”, dalam bahasa Indonesia bisa berarti: - gejala, misalkan gejala alam - hal-hal yang dirasakan dengan pancaindra hal-hal mistik atau...

Menurut wikipedia.org, Fenomena berasal dari bahasa Yunani; phainomenon, “apa yang terlihat”, dalam bahasa Indonesia bisa berarti:
- gejala, misalkan gejala alam
- hal-hal yang dirasakan dengan pancaindra hal-hal mistik atau klenik
- fakta, kenyataan, kejadian

Dalam lomba berkicau sekarang ini istilah fenomena dapat kita artikan apa yang terlihat, gejala-gejala atau hal-hal yang dirasakan oleh pelomba taupun Event Organiser (EO) burung berkicau sekarang ini.

Beberapa fenomena Lomba Burung Berkicau diantaranya adalah:

1. LOMBA TANPA TERIAK TAPI TETAP TERIAK
Fenomena yang terlihat sekarang ini hampir terjadi dibeberapa lomba khususnya di Jawa, walau dibrosur sudah tertulis LOMBA NON TERIAK, maka pelomba masih saja berteriak dengan kencangnya. Teriakan ini seperti: * Menyebut Juri, Menyebut no. Gantangan, Minta dipantau, menyebut nama burung, bahkan sampai terjadi keributan.

Beberapa sebab TERIAKAN INI adalah:

a. Krisis Kepercayaan Penjurian, Krisis kepercayaan ini disebabkan oleh oknum Juri dan pelomba itu sendiri, untuk memenangkan burung tertentu si Juri memenangkan burung tertentu karena sudah hapal sangkar suatu misal. Kalau hal ini sering dilakukan di event-event lomba, maka secara akumumative akan menjadi bumerang bagi Panitia tsb.
. Jarak pagar yang dekat dengan, Jarak pagar penonton dengan gantangan burung sangat dekat akan memicu teriak pelomba lebih mudah. Dengan jarak yang jauh antara Pelomba dan Gantangan, maka walau teriak tidak akan mempengaruhi kerja juri di lapangan. Namun jarak yg jauh menurut beberapa pemain, juga jarak pagar yang jauh justru akan menyamankan juri untuk berbuat semaunya,,jikalau berniat curang maka akan mudah sekali dan tanpa takut karena jauh dari teriakan peserta.

c. Panitia Yang TIDAK TEGAS, Panitia dalam hal ini yang diwakili oleh Pihak Keaamanan,biasanya kurang tegas dan tidak disiplin dalam menetapkan aturan lomba. Ketidaktegasan ini akan membuat TOLERASNI pelomba untuk berteriak, seharusnya Panitia memberikan aturan yang tegas, misal teriakan 1 diperingatkan, peringatan kedua lagusng diberi benedera DIS.

Ada kelemahan dengan penonton teriak yang kencang lebih kencang dari pada bunyi burung:
- Juri tidak bisa konsentrasi dalam menilai burung dalam penjurain, sehingga hasilnya tidak optimal.
- Oknum juri lebih mudah memenangkan burung tertentu karena tidak terdengar volume secara jelas.

2. AMBISI JUARA
Sebagian pelomba hanya melihat burung sendiri, tanpa membandingkan burung-burung lain yang berkerja saat di lapangan. Apalagi burungnya kalau dari jauh kelihatan bunyi, nah pandangan dari jauh inilah kadang beda persepsi qantara Juri dan pemilk burung. Si Pemilik burung menganggap burung bunyi, sementara pihak Juri bunyinya volumenya kurang tembus, atau kurang variasi, dsb. Memang semua burung yang tampil di lomba khususnya burung-burung Juara, namun tidak selamanya burung juara juga bekerja maksimal karena banyak faktor. Ambis juara disebabkan
- Tidak percaya diri dengan kemampuan burungnya, walau ditransfer dengan mahal
- Malu kalah karena burungnya sering juara, tidak selamanya burung juara itu juara karena banyak faktor.
- Burung proyek, burung proyek ini karena burung akan dipantau oleh orang, agar deal maka dijuarakan adalah jalan satu- satunya.
- Tidak menerima kekalahan.

3. PEMESANAN NO. GANTANGAN
Sering di brosur kita lihat untuk pemesanan tiket tertulis “PEMESANAN TIKET (Bukan No. Gantangan), namun kadang oknum panitia sering memilihkan no. gantangan tengah kepada orang-orang tertentu yang kenal dekat atau yang memberikan sponsor, walau pemesanan sudah full, seharusnya dengan pemesanan full memudahkan untuk membagi tiket. Bahkan no. sekarang yang sudah sistem gosok pun masih dilakukan. Untuk kelas-kelas yang tidak full, bolehlah no. gantangan diatur sedemikian rupa agar saat lomba semua burung terkumpul menjadi satu, sehingga memudahkan juri untuk menilai. Misal pesenan di kelas Anis Kembang ada 20 peserta, maka kedua puluh orang ini ditaruh di tengah diantara no. 1 – 60, dengan cara di kopyok juga biar fair. Bila ada yang beli tiket di lapangan dan mendapatkan no. pinggir, maka saat gantang nanti ada toleransi untuk dilakukan pemindahan agar berkumpul dengan cara minta tanda tangan panitia.

4. SANGKAR
Penggunaan sangkar bebas dilomba, memudahkan pemain untuk memberikan tanda pada sangkarnya dengan kode-kode tertentu, misal di tempat minuman dengan warna tertentu, memberikan warna disangkarnya (ban sangkar), dsb. Dengan perbedaan memudahkan juri memantau burung-burung titipan. BNR yang mewajibkan sangkar produk BNR kadang pemain masih bisa memberikan kode tertentu, apalagi beda sangkar atau menggunakan sangkar bebas, akan membuat celah antara pemain dan oknum juri. Penggunaan sangkar bebas ini menyebabkan pelomba menggunakan sangkar mahal (Cungkok), dimana sangkar cungkok sebagai rasa gengsi atau menandakan pemilik orang berduit (bos).

5. LOMBA BESAR DAN HADIAH BESAR
Lomba sekarang ini, khususnya lomba besar, sering jor-joran hadiah yang besar pula. Inilah yang mengakibatkan pelomba dan oknum juri bekerja sama untuk memenangkan burung tertentu dengan cara bagi hasil hadiah. Atau oknum panitia, agar tidak kehilangan hadiahnya, maka dengan cara kerja sama dengan juri untuk memenangkan burung tertentu.

6. PENAMBAHAN NILAI MENTOK
Tidak selalu terjadi namun pernah penulis temui sendiri, ada pelomba datang ke petugas rekap untuk menambahi nilai mentok 38 agar bisa burungnya bisa masuk Tos, sehingga bisa juara.

7. KEDEKATAN EMOSIONAL PEMAIN DAN JURI
LOmba burung adalah komunitas tertentu dan terbatas, orangnya ya itu-itu saja, seringnya bertemu di lomba mengakibatkan juri dan pelomba mempunyai hubungan emosi yang dekat, apalagi kalau sering dibantu atau dikasih hadiah, wujud perasaan gak enak ini bisa dibawa ke lomba. Atau juga si Juri sering dipakai di event atau tempat Latberannya.

8. SPECIAL THANKS
Special thanks bertujuan untuk menampilkan para donatur atau sponsor lomba sebagai rasa terima kasih dari pantia atas donator atau sponsor yang diberkan, biasanya para tokoh-tokoh burung yang langganan juara, Bird Club Organisasi atau Peusahaa. Bagi sebagian orang khususnya pemula di lomba, mengakibatkan kecurigaan dimana burung yang nantinya juara adalah burung-burung yanga ada di special thanks tsb. Jadi pokok kecurigaan pemain,seperti membaca peta kekuatan pelomba dan sangat rawan bagi panitia,karena bias menjadi kontra produktif, jika dari awal peminat lomba sudah berfikir negative, dan memang sering terjadi seperti itu, yang koncer yang pasti yg nyumbang. Pada hal sebenarnya kalau kita obyective, mereka juga pemain yang mencari burungnya sangat selective juga.

9. DUTA EVENT
Biasanya pra even tertentu, akan dijadikan ajang promosi bagi panitia dengan menyebar pendukung dengan menggunakan dt even X (Misal) dan biasanya, duta even tersebut akan melakukan tour/rally dengan mengusung even yang akan digelar, dan juga banyak yang koncer, dan panitia sungkan dan juri mengiyakan untuk DITITIPI.

original posted by : Yogi Prayogi

Indahnya berbagi :

Baca yang lainnya :

Pengunjung Yang Baik Selalu Meninggalkan Komentar

avatar

About Kicau Mania Palembang Sumbagsel

Mercy tantry ( trie ) Jl. Punai no.28 Palembang - 08127385820-07114331883 - FB : Trie KMPS