Murai batu menjadi saksi di pengadilan

Hal ini terjadi pada bulan juni 2014 yang lalu admin sempat membaca berita ini dan kemudian menemukan sumber asli dari berita tersebut berikut reportasi lengkapnya : BATAM, METRO: Seekor burung […]

Hal ini terjadi pada bulan juni 2014 yang lalu admin sempat membaca berita ini dan kemudian menemukan sumber asli dari berita tersebut berikut reportasi lengkapnya :

BATAM, METRO: Seekor burung murai batu dihadirkan ke ruang sidang. Tentu saja si ‘kicau merdu’ ini bukan untuk bersaksi. Burung hitam berdada coklat kemerahan dan berekor putih ini dibawa ke persidangan dalam kasus dugaan penadahan atas terdakwa Adi Sulaimanto (28). Tak hanya menjerat Adi, dalam kasus hilangnya burung murai batu milik Sutomo itu, seorang lainnya-Sunardi, dijerat dengan pasal 363 KUH Pidana tentang pencurian.

Kamis (26/6), Adi, terdakwa penadahan ini terlihat gelisah di persidangan. Ia harap-harap cemas jika saksi yang dihadirkan jaksa penuntut, bisa membuatnya divonis bersalah. Hanya saja, saat saksi yang disebut sebagai penangkar burung yang diperkarakan itu ingin bersaksi, hakim lantas mengetuk palu, menyebut sidang ditunda. “Keberatan penasehat hukum kami terima, sidang kami tunda,” kata Ketua Majelis Hakim Merrywati, menjawab keberatan pengacara atas absennya seorang hakim anggota.

Jelas saja jaksa kecewa. Hari itu, jaksa tertunda untuk membuktikan bahwa burung tersebut memang milik Sutomo.
“Bagaimana bisa klien kami dijerat atas hilangnya seekor burung. Apa dasarnya korban mengaku-ngaku sebagi pemilik?” kata Tagor Sitanggang, pengacara Adi, di luar persidangan.

Dijelaskan Tagor, sebagai pembeli, Adi sudah membayar burung tersebut dengan harga pasaran. Dua ekor burung murai batu itu, dibeli Adi seharga Rp1.750.000. “Bagaimana mungkin klien kami ini beranggapan kalau burung yang dibelinya itu hasil curian,” kata Tagor.

Terpisah, Sunardi, kata Tagor, juga membantah mencuri. “Burung itu dibeli dari Medan,” sebut Tagor-yang mengaku juga mendampingi Sunardi di persidangan. Ia melanjutkan, “Nanti kami akan menghadirkan saksi meringankan yang akan menjelaskan kalau burung itu memang dibeli di Medan.”

Tagor menilai, penyidik sangat teledor hingga memajukan kasus ini ke persidangan. “Yang mengaku korban dalam kasus ini jelas tak bisa membuktikan sebagai pemilik burung,” tegas Tagor. Sangat aneh, kata Tagor, jika korban mengaku sebagai pemilik hanya dengan alasan sangat mengenal sangkar burung tersebut. “Korban mengaku burungnya itu senilai sebelas juta,” sebut Tagor.

Terpisah, Aji Satrio, salah satu jaksa yang menyidangkan kasus ini, jelas tak mau gegabah. “Kami punya bukti kuat yang menyatakan kalau burung itu milik korban. Salah satunya, kami juga menghadirkan saksi yang menangkar burung ini,” sebut Aji.

Kendati korban mengklaim harga burung mencapai Rp11 juta, namun Aji mengaku kalau burung tersebut belum memiliki sertifkat tanding. “Tapi burungnya sudah jadi,” kata dia.

Berbagai foto dan video yang sudah dibuat korban, kembali dicocokan sebagai bukti kalau burung tersebut memang milik Sutomo-yang mengaku kehilangan murai batu itu.

Dalam dakwaannya, Aji menjerat Adi dengan pasal 480 ke-1 KUH Pidana. Dijelaskan dalam wakwaan itu, 24 Februari sekira 19.00 WIB lalu, Sunardi mendatangi Adi di ruko Bengkong Kolam Blok A12 Nomor 8. Seekor burung murai batu ditawarkan Sunardi seharga Rp950 ribu. Adi pun menyanggupi.

Tak lama berselang, Sunardi kembali menawarkan burung batu lainnya seharga Rp1,3 juta. Namun tawaran via SMS itu tak langsung disanggupi Adi. Alhasil, setelah nego, disepakati harga Rp800 ribu.

“Terdakwa telah mengetahui atau patut disangka kalau dua ekor burung tersebut hasil kejahatan. Terdakwa tidak berusaha menanyakan dan meminta surat-surat berupa sertifikat atau bukti kepemilikan burung tersebut,” kata Aji.

Informasi yang dihimpun POSMETRO, Adi diketahui bekerja sebagai tukang jual burung, ikan dan binatang peliharaan lainnya. Sutomo, si pemilik burung, disebut-sebut sebagai seorang polisi. “Korbannya ini polisi,” kata Aji.(chi)

Sumber berita klik disini

avatar

About Kicau Mania Palembang Sumbagsel

Mercy tantry ( trie ) Jl. Punai no.28 Palembang - 08127385820-07114331883 - FB : Trie KMPS