‘Save Birds Nest’, Babak Baru Melawan Pemburu

Anggota komunitas Birdpacker bersama Kaysan (tengah) yang datang menjadi relawan menjaga sarang dalam module Save Birds Nest. Foto dokumentasi Birdpacker.

Dari sebuah sarang burung mungil berencet kerdil (Pnoepyga pusilla) yang hilang dicuri, komunitas Birdpacker lantas tergugah untuk melakukan penjagaan sarang berbagai jenis burung di Taman Hutan Raya R. Soerjo, Batu, Jawa Timur. Mereka tak ingin aksi tak bertanggung jawab di dalam kawasan konservasi yang jadi halaman bermain mereka itu terjadi lagi.

Tanpa banyak bicara, mereka melakukan sebuah aksi nyata bertajuk ‘Save Birds Nest’. Tujuannya satu, demi terjaganya kelestarian burung di habitatnya.

Terhubung secara online, Kutilang Indonesia mencoba menggali lebih dalam perjuangan Birdpacker dalam module Save Birds Nest tersebut. Berikut petikan wawancara kami dengan Waskito Kukuh Wibowo, sang direktur, 21 Januari 2017.

Apa yang melatarbelakangi kegiatan penjagaan sarang ini? Bagaimana tercetusnya?

Latar belakang, awalnya dari pengamatan burung rutin di Tahura R. Soerjo kami menemukan sarang Berencet Kerdil. Selanjutnya kami intensif mengamati sarang tersebut hingga mendekati waktu burung anakan keluar sarang. Namun karena absen satu hari pengamatan ternyata sarang yang terletak di pinggir jalan raya itu hilang dicuri. Selanjutnya kami terus melakukan pengamatan di Tahura R. Soerjo dan dari hal tersebut kami menemukan sarang burung aktif lainnya.

Program ini tercetus karena kekhawatiran terulangnya kembali pencurian sarang burung aktif dimana masih banyak sarang burung aktif yang ditemukan, beberapa pengamat burung di Malang bercerita mengenai kejadian yang sama dan ingin mengajak pengamat burung Malang (Seriwang) untuk rutin mengamati burung.

Berapa sarang dari berapa jenis burung yang dijaga? Berapa anakan yang berhasil terselamatkan?

Sampai saat ini 13 sarang dari 8 jenis burung (ciung-batu kecil, cingcoang coklat, ciu jawa meninting besar, sikatan bodoh, cikrak muda, cinenen gunung, dan berencet kerdil) yang dijaga.

Anakan yang (sudah) berhasil terselamatkan lima ekor dari empat jenis, dan masih menjaga dua sarang dari dua jenis burung karena anakan belum siap keluar sarang.

[Sebagian besar jenis yang disebutkan itu kerap hadir di pasar burung. Jenis-jenis yang sebenarnya tidak populer di kalangan pehobi burung sangkar dan tidak diminati. Namun kecenderungan yang terjadi saat ini, jenis burung apapun seakan tak luput dari incaran pemburu. Celakanya, ketika burung-burung yang telah terlanjur ditangkap itu dipajang di pasar burung, mereka hanya akan menunggu mati karena tidak laku, sementara populasi di alam semakin habis akibat penangkapan berlebihan.]

Dokumentasi Birdpacker saat penjagaan ketika indukan cingcoang coklat mendatangi sarang untuk memberi makan anakan.

Apakah sarang selalu dipantau setiap hari? Bila iya, berapa lama durasi waktu penjagaan setiap harinya? Bila tidak, bagaimana menjamin sarang/anakan tidak hilang saat tidak didatangi?

Sarang selalu dijaga setiap hari dengan rata-rata lama durasi penjagaan sarang setiap harinya sekitar 9 jam untuk seluruh sarang aktif yang dijaga.

 

Aktifitas dalam menjaga dan mengamati sarang. Foto dokumentasi Birdpacker.

Bagaimana teknis atau mekanisme penjagaan?

Sarang ditemukan di dua site, Cangar dan Watu Ondo. Dalam satu hari penjagaan yang saat ini masih dilakukan oleh 1-2 orang kunjungan dilakukan 1-2 jam per sarang di dua site tersebut. Memantau aktivitas induk dan anakan lalu mencatat dan mendokumentasikannya.

[Hanya dua senjata yang mereka gunakan dalam penjagaan. Pertama, alat pencatat untuk mendata perilaku burung di sarang. Kedua, kamera untuk mendokumentasikan secara visible yang memudahkan Birdpacker melaporkan perkembangan penjagaan yang dilakukan melalui fanpage FB mereka. Seperti pada salah satu sarang dari cingcoang coklat yang mereka jaga hingga 32 hari, mulai dari telur hingga anakan burung menetas dan terbang meninggalkan sarang. Mereka ibarat orangtua asuh yang memastikan perkembangan sang anak hingga dewasa dan mampu mandiri.]

Saat penjagaan, adakah kontak dengan pemburu atau orang yang dicurigai menjadi pemburu sarang?

Ada, mereka seringkali mendekati sarang dan ketika dipergoki mereka langsung pergi.

Adakah pihak di luar Birdpacker yang turut melakukan penjagaan? Berapa banyak orang/relawan yang terlibat di penjagaan?

Belum ada.

Bagaimana Anda melihat respon dari masyarakat luas untuk kegiatan ini?

Respon dari masyarakat sangat mendukung module ini.

Berapa banyak orang/pihak yang mendonasi? Dari mana saja pendonasi tersebut (asal atau latar belakang)?

Hingga saat ini pihak yang mendonasi sebanyak satu orang dan 16 komunitas. Berasal dari berbagai kota mulai dari Jakarta, Bogor, Banyumas, Pekalongan, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Banyuwangi, Kalimantan Tengah, dan Sumba Timur. Latar belakang akademisi, klub pengamat burung, penggiat konservasi satwa, klub wildlife photography, wirausahawan/wati.

Berapakah dana yang berhasil terkumpul dan untuk apa saja penggunaannya?

Dana yang terkumpul sejumlah Rp. 6.720.000 akan digunakan untuk copy print “The Hornbills of Indonesia” lalu sebagian dana serta hasil penjualan print akan digunakan untuk operasional penjagaan sarang (merekrut tim penjaga).

[Setelah module Save Bird Nest digaungkan melalui media sosial dengan tagar #savebirdsnest, banyak pihak yang akhirnya terlibat. Mereka menyambut ajakan donasi yang ditawarkan oleh program. Kemudian, kawan-kawan pemerhati burung datang untuk ikut menjaga dan mendokumentasikan kegiatan penjagaan sarang, seperti yang dilakukan kelompok pecinta alam Biolaska dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, juga Kaysan, pengamat burung cilik dari Jakarta.  Dana yang terkumpul tersebut lantas digunakan juga untuk mem-fasilitasi para relawan dari berbagai daerah yang datang tersebut.]

Bagaimana respon pengelola Tahura R. Soerjo terhadap kegiatan ini? Adakah kerjasama dilakukan?

Sampai saat ini kami belum melakukan kerjasama dengan pihak pengelola Tahura R. Soerjo dan secara resmi pihak penjaga kawasan mendukung kegiatan pengamatan burung dan penjagaan sarang.

[Dengan begitu tingginya tingkat perburuan burung di Jawa, butuh lebih banyak lagi orang yang melakukan aktifitas penjagaan sarang seperti ini, di manapun. Terbukti dari penjagaan yang Birdpacker lakukan, telah banyak jenis burung yang sukses menjalani masa persarangan mereka dengan selamat tanpa gangguan. Apa yang dilakukan komunitas Birdpacker ini menandai babak baru perjuangan para pemerhati burung dalam melawan pemburu.]

avatar

About Kicau Mania Palembang Sumbagsel

Mercy tantry ( trie ) Jl. Punai no.28 Palembang - 08127385820-07114331883 - FB : Trie KMPS